link-link yang terkait dengan delphi

software



free Download SoftWare

Anti Virus


Design



Game

liu bei

liu bei ( Xuande - liu pei )


Tempat Lahir: Zhou County, Zhou kabupaten (Saat Zhuo Zhou, Dia Bei Provinsi)
Umur: AD 161-223 (62 tahun)
Judul: Kaisar Shu, Raja Han Zhong, Raja Zhao Di

Liu Bei adalah keturunan dari Pangeran Sheng dari Zhongshan, seorang yang hebat-cucu dari Kaisar Han Jing keempat. Liu Bei hidup dalam kemiskinan selama masa mudanya, ayahnya meninggal dunia ketika ia masih muda sehingga ia dan ibunya membuat hidup tenun dan menjual tikar rumput dan sandal jerami. Pada usia lima belas, Liu Bei menjadi murid dari para sarjana Han Lu Zhi, bersama dengan temannya Gongsun Zan.

Selama pemberontakan Sorban Kuning, ia diangkat ke posisi Yudisial Officer Anxi County. Dia tidak tinggal di sana untuk waktu yang lama, karena ia dipaksa untuk pensiun posisi setelah mengalahkan seorang pejabat korup dengan cabang pohon (1).

Liu Bei memulai karir militernya di bawah Bupati Marshall Dia Jin dan desau naungan Gongsun Zan. Beliau diangkat sebagai pembantu Komandan Korps dan Hakim dari Ping Yuan County.

Ketika Cao Cao menyerang Tao Qian Xu Zhou, Liu Bei pindah pasukannya untuk menyelamatkan Liu Biao. Pada tahun pertama Rebuilt Tranquility (AD 196), Liu Bei menerima rekomendasi untuk pangkat Jenderal Siapa Pengawal Timur dan diberi gelar Tuhan Yicheng Precinct.

Selanjutnya, Liu Xuande membantu Cao Cao dalam menangkap hidup Lu Bu dan dipromosikan menjadi Jenderal Kiri. Pada saat ini, Kaisar Xian resmi diakui hubungan Liu Bei ke Prince of Zhongshan dan gaya dia "Imperial Paman."

Antara tahun ketiga dan keempat dari Rebuilt Tranquility (AD 198-199), Liu Bei kehilangan dukungan dengan Cao Cao dengan berpartisipasi plot untuk membunuhnya. Dia pertama kali berlindung di Xia Pi, dan kemudian pada tahun kelima Rebuilt Tranquility (AD 200), Liu Bei berlindung Yuan Shao.

Liu Bei meninggalkan Yuan Shao dan setelah bergabung kembali dengan saudara-saudaranya Zhang Fei dan Guan Yu, dia pergi ke Jing Zhou, mencari suaka dengan Liu Biao. Cao Cao mengejar Liu Bei, dan dengan demikian Xuande meninggalkan posnya di Fan Cheng dan mundur ke Xia Kou. Kemudian Liu Bei bersekutu dengan Sun Quan dari southlands, menyiapkan perangkap bagi Cao Cao jatuh masuk Pada pertempuran menentukan Chi Bi, Liu Bei berhasil mundur ke selatan Jing saat angkatan laut Cao Cao dihancurkan oleh Zhou Yu.

Setelah kematian Liu Biao dan Liu Qi, Liu Bei menempati beberapa kabupaten di Jing Zhou. Dia kemudian menikahi adik Sun Quan dan resmi menjadi Pelindung Jing Zhou.

Pada tahun enam belas Rebuilt Tranquility (AD 211), Liu Bei pergi ke Yi Zhou dengan berpura-pura membantu Liu Zhang melawan Zhang Lu. Pada saat ini, Liu Bei menerima dua rekomendasi untuk posting Great Menteri Perang dan Panglima Distrik Ibukota. Pada tahun kesembilan belas Rebuilt Tranquility (AD 214), Liu Bei berbalik pada Liu Zhang dan Xuande diduduki Cheng Du dan Riverlands Barat (2). Dia dianggap perlindungan Yi Zhou dan pada tahun dua puluh empat Rebuilt Tranquility menyatakan dirinya Raja Hanzhong.

Setelah serangkaian perang dengan kedua Wu dan Wei, Liu Xuande, atas desakan Zhuge Liang, memproklamirkan diri Kaisar pada bulan April AD 221. perang terakhir adalah berperang melawan Kerajaan Wu, sebagai tindakan balas dendam setelah kampanye sukses melawan Wu Jing Zhou menyebabkan kematian Xuande kakak Guan Yu. Liu Bei dikalahkan oleh umum Sun Quan Lu Xun di Yi Ling, dan mundur ke Bai Di Cheng (3). Pada 24 April 223 Masehi, Liu Bei meninggal karena sakit dan dimakamkan di Hui Ling. Liu Xuande adalah gelar anumerta Raja Zhao Di.




zhang fei

Zhang Fei 



 
Zhang Fei bernama lengkap Zhang Yide , saudara angkat termuda dari Liu Bei dan Guan Yu dan seorang panglima perang terkenal pada Zaman Three Kingdom. Dalam novel Kisah Tiga negara karangan Luo Guan Zhong. Di kalangan Tionghoa Indonesia, ia dikenal juga dengan nama Tio Hoei.

JenderaL di Shu

Zhang Fei(167-221 AD) Merupakan Jenderal militer dr SHU Han selama era Tiga kerajaan ( Three Kingdom = Sam Kok, dll da ) Ia dipaparkan sebagai jendral yg sangat kuat, memperlakukan yg kuat2 dgn hormat tp beda dengan prajuritny sendiri.. beberapa sumber mengatakan Zhang Fei sangat piawai dalam ilmu sastra dan seni lukis..


Biografi

Zhang Fei (Zhang Yide) berasal dari daerah Zhuo dan telah berteman dengan Liu Bei dan Guan Yu sejak muda. Ketigany memiliki hub dekat layakny saudara kandung.. bahkan sering tidur dalam kamar yg sama..Ketika Liu Bei di kejar prajurit Cao Cao dalam Battle Of Changban, Zhang Fei bersama dengan hanya 20 kavaleri menghadang pasukan Cao Cao. Wajahny yg garang serta sosok yg gagah membuat Cao Cao tidak berani maju.
Dalam Sejarah novel, Zhang Fei pd mulany bekerja sebagai Tukang daging dan menjdi salah seorang dari Five Tiger general. Ia melakukan Sumpah Saudara yang dikenal dengan sumpah Kebun Persik atau Oath Of The Peach Garden.

Secuplik Kisah Zhang Fei pernah melawan kakak angkatny guan yu karena dianggap berpihak dengan Cao Cao. Zhang Fei begitu emosi.. padahal Guan Yu berada di teritori Cao Cao untuk melindungi Istri-istri Liu Bei.Zhang Fei akhirny percaya ketika Guan YU membunuh 2 jenderal Musuh...

Kenyataan yg membingungkan

Zhang fei meninggal karena sesuatu masalah... yaitu karena Zhang Fei yg mempunyai sikap lebih menghormati orng yg lebih kuat dr ny.. tetapi sebalikny dengan prajuritny sendiri/ anak buah. Ketika Liu Bei melakukan ekspedisi melawan Dong Wu. Zhang Fei menggerakkan 100rb pasukan utama di Jiangzhou. Sebelum Tiba, Zhang Fei dibunuh oleh anak buahny yg bernama Zhang Da dan Fan Jiang dengan membawa kepalany ke Sun Quan sambil menyerahkan diri..
Fakta aneh
Saat akan membunuh Zhang Fei, Zhang Da dan Fan Jiang berpikir Zhang Fei masih terjaga saat tidur. Ternyata dia tidur sambil mata terbuka

 



sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=116602&page=1

Sejarah Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara 
358–669

Lokasi Tarumanagara
 Tarumanagara


Wilayah Tarumanagara
Ibu kota Bahasa   
Sunda, Sansekerta
Agama  

Hindu, Buddha, Sunda Wiwitan
Pemerintahan   

Monarki
Sejarah
 - Didirikan   358
 - Serbuan Sriwijaya pada tahun   669 650

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Sumber Sejarah

Bila menilik dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Prasasti yang ditemukan

  1. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
  2. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
  4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
  5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
 Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Prasasti Pasir Muara

Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
Terjemahannya menurut Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.
Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
Selain itu, ada pula gambar sepasang "pandatala" (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Telapak Gajah

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.
Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

Prasasti Jambu

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel:
Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Sumber berita dari luar negeri

Sumber-sumber dari luar negeri semuanya berasal dari berita Tiongkok.
  1. Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa") hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama kotor" (maksudnya animisme).
Ye Po Ti sering dianggap sebutan Fa Hien untuk jawadwipa, tetapi kemungkinan yang lebih tepat Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti2 peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dll yang sekarang terletak di taman purbakala pugung raharjo, meskipun saat ini pugung raharjo terletak puluhan kilo meter dari pantai tetapi tdk jauh dari situs tersebut ditemukan batu2 karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien[rujukan?]
  1. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang terletak di sebelah selatan.
  2. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang Taruma.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

Kepurbakalaan Masa Tarumanagara

 
Candi Jiwa di situs Percandian Batujaya



No. Nama Situs Artepak Keterangan
1 Kampung Muara Menhir (3)


Batu dakon (2)


Arca batu tidak berkepala


Struktur Batu kali


Kuburan (tua)
2 Ciampea Arca gajah (batu) Rusak berat
3 Gunung Cibodas Arca Terbuat dari batu kapur


3 arca duduk


arca raksasa


arca (?) Fragmen


Arca dewa


Arca dwarapala


Arca brahma Duduk diatas angsa
(Wahana Hamsa)
dilengkapi padmasana


Arca (berdiri) Fragmen kaki dan lapik


(Kartikeya?)


Arca singa (perunggu) Mus.Nas.no.771
4 Tanjung Barat Arca siwa (duduk) perunggu Mus.Nas.no.514a
5 Tanjungpriok Arca Durga-Kali Batu granit Mus.Nas. no.296a
6 Tidak diketahui Arca Rajaresi Mus.Nas.no.6363
7 Cilincing sejumlah besar pecahan settlement pattern
8 Buni perhiasan emas dalam periuk settlement pattern


Tempayan


Beliung


Logam perunggu


Logam besi


Gelang kaca


Manik-manik batu dan kaca


Tulang belulang manusia


Sejumlah besar gerabah bentuk wadah
9 Batujaya (Karawang) Unur (hunyur) sruktur bata Percandian


Segaran I


Segaran II


Segaran III


Segaran IV


Segaran V


Segaran VI


Talagajaya I


Talagajaya II


Talagajaya III


Talagajaya IV


Talagajaya V


Talagajaya VI


Talagajaya VII
10 Cibuaya Arca Wisnu I


Arca Wisnu II


Arca Wisnu III


Lmah Duwur Wadon Candi I


Lmah Duwur Lanang Candi II


Pipisan batu

Naskah Wangsakerta

Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wangsakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.
Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.
Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura--pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.
Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 - 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.
Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?
Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).
Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.
Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.
Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

 

Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta

Raja-raja Tarumanegara
No Raja Masa pemerintahan
1 Jayasingawarman 358-382
2 Dharmayawarman 382-395
3 Purnawarman 395-434
4 Wisnuwarman 434-455
5 Indrawarman 455-515
6 Candrawarman 515-535
7 Suryawarman 535-561
8 Kertawarman 561-628
9 Sudhawarman 628-639
10 Hariwangsawarman 639-640
11 Nagajayawarman 640-666
12 Linggawarman 666-669


sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara